Hujan membasahi jendela
Hujan menampar wajahnya
yang duduk termenung
tanpa melempar murung
mungkin jiwanya terbelenggu
karna tak masuk dalam dunia sendiri
atau jiwa yang sedang menunggu
untuk bisa bangkit berdiri
dalam hujan dingin
ku tatap kekelaman
mungkin jiwanya sedang memberontak
hatinya sedang berteriak
ulur tangan hanya ditatap
mungkinkah tak menghadap
atau telah menetap
tapi tak mampu berharap
dinginnya hujan malam
tak ia hiraukan
malam yang begitu kelam
membuatnya semakin kebasahan
tapi ia masih tak bergeming
rasakan tetesan yang membasahinya
air mata yang jatuh seiring
hujan mengganti racun jingga
ketika apa yang terjadi
dia hanya duduk terdiam
mencoba menenangkan diri
dalam kabut malam
lalu aku terpejam mata
bayang kendaraan tuk pergi
disaat itu tiba
ku ingin mereka menyesali
ketika apa yang terjadi
ku hanya berdiam diri
menetralkan apa yang menghujam
dalam hening nya malam...
Hujan menampar wajahnya
yang duduk termenung
tanpa melempar murung
mungkin jiwanya terbelenggu
karna tak masuk dalam dunia sendiri
atau jiwa yang sedang menunggu
untuk bisa bangkit berdiri
dalam hujan dingin
ku tatap kekelaman
mungkin jiwanya sedang memberontak
hatinya sedang berteriak
ulur tangan hanya ditatap
mungkinkah tak menghadap
atau telah menetap
tapi tak mampu berharap
dinginnya hujan malam
tak ia hiraukan
malam yang begitu kelam
membuatnya semakin kebasahan
tapi ia masih tak bergeming
rasakan tetesan yang membasahinya
air mata yang jatuh seiring
hujan mengganti racun jingga
ketika apa yang terjadi
dia hanya duduk terdiam
mencoba menenangkan diri
dalam kabut malam
lalu aku terpejam mata
bayang kendaraan tuk pergi
disaat itu tiba
ku ingin mereka menyesali
ketika apa yang terjadi
ku hanya berdiam diri
menetralkan apa yang menghujam
dalam hening nya malam...
Komentar
Posting Komentar