Sirius, kau tahu bahwa aku bukanlah orang romantis yang bisa mengungkapkan rasa sayangku pada siapa yg aku sayangi. Aku selalu diam ketika mereka berbicara dan mengungkapkan perasaan mereka. Aku juga selalu menutup rapat tentang diriku agar mereka tidak terlalu jauh mengenalku. Lalu, aku marah dgn sendirinya ketika mereka tidak memahamiku. Adilkah? Sungguh tidak adil.
Aku selalu menolak ketika mereka mencoba untuk selangkah lebih dekat denganku. Aku begitu kejam.
Aku teringat pesan dari teman SMA ku dulu. Bahwa ia pernah berkata :
"teman adalah melodi ilusi. Dimana terdengar indah tapi keindahan itu tidak nyata. Suatu saat kau akan tersakiti dgn kenyataannya."
Aku terlalu takut, sehingga aku tak mengizinkan siapapun untuk lebih dekat denganku. Hingga akhirnya, aku berdiskusi pada diriku sendiri.
" bukankah itulah gunanya teman? Menyadarkanmu bahwa dunia tak sepenuhnya indah. Kadangkala, kau harus merasakan sakit. "
Oke, aku menerima pernyataan itu. Lalu, entah kenapa hatiku membantah kembali. Dan sekali lagi aku berdiskusi dgn diriku.
" bahwa ketika kau berteman, kadangkala kau harus siap memberi dan menerima. Kadangkala kau harus siap menolak dan diterima. Kadangkala kau harus siap mengalah dan mempertahankan. Kadangkala, kau harus sabar dan lebih sabar. Kadangkala kau juga harus mengungkapkan apa yang mengganggu pikiranmu? Dan mereka, sama sepertimu, harus menerima kritikan itu. Itulah teman bukan?"
Oke, sekali lagi aku siap dengan pernyataan itu.
Lalu, kenapa aku terus menolak?
Dan aku berkata kepada diriku sendiri.
" coba saja berteman. Kau tidak tahu betapa indahnya itu jika kau tak melakukannya. Sama seperti matahari, jika dirasakan maka akan terasa panas, jika dilihat maka terasa perih. Tapi jika dilihat dari sisi yang berbeda, maka itu indah. Senja itu. "
Kita berdamai saja ya, hatiku.
😊

Komentar
Posting Komentar