Langsung ke konten utama

Teman itu, dia


Sirius, kau tahu bahwa aku bukanlah orang romantis yang bisa mengungkapkan rasa sayangku pada siapa yg aku sayangi. Aku selalu diam ketika mereka berbicara dan mengungkapkan perasaan mereka. Aku juga selalu menutup rapat tentang diriku agar mereka tidak terlalu jauh mengenalku. Lalu, aku marah dgn sendirinya ketika mereka tidak memahamiku. Adilkah? Sungguh tidak adil.
Aku selalu menolak ketika mereka mencoba untuk selangkah lebih dekat denganku. Aku begitu kejam.
Aku teringat pesan dari teman SMA ku dulu. Bahwa ia pernah berkata :

"teman adalah melodi ilusi. Dimana terdengar indah tapi keindahan itu tidak nyata. Suatu saat kau akan tersakiti dgn kenyataannya."

Aku terlalu takut, sehingga aku tak mengizinkan siapapun untuk lebih dekat denganku. Hingga akhirnya, aku berdiskusi pada diriku sendiri.

" bukankah itulah gunanya teman? Menyadarkanmu bahwa dunia tak sepenuhnya indah. Kadangkala, kau harus merasakan sakit. "

Oke, aku menerima pernyataan itu. Lalu, entah kenapa hatiku membantah kembali. Dan sekali lagi aku berdiskusi dgn diriku.

" bahwa ketika kau berteman, kadangkala kau harus siap memberi dan menerima. Kadangkala kau harus siap menolak dan diterima. Kadangkala kau harus siap mengalah dan mempertahankan. Kadangkala, kau harus sabar dan lebih sabar. Kadangkala kau juga harus mengungkapkan apa yang mengganggu pikiranmu? Dan mereka, sama sepertimu, harus menerima kritikan itu. Itulah teman bukan?"

Oke, sekali lagi aku siap dengan pernyataan itu.

Lalu, kenapa aku terus menolak?
Dan aku berkata kepada diriku sendiri.

" coba saja berteman. Kau tidak tahu betapa indahnya itu jika kau tak melakukannya. Sama seperti matahari, jika dirasakan maka akan terasa panas, jika dilihat maka terasa perih. Tapi  jika dilihat dari sisi yang berbeda, maka itu indah. Senja itu. "

Kita berdamai saja ya, hatiku.
😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku setelah dua jam kedepan?

Dua jam Lagi maka aku telah melewati 1 tahun ini dengan tahun yang sama seperti sebelumnya, tanpa tawa. Sebelumnya, aku berpikir bahwa tempat itu, mungkin akan membawa ku pada hidup yang menarik. Dengan cerita lucu, menantang dan sebagainya. Tapi, pada akhirnya sama saja. Aku berada pada titik yang memintaku untuk menyerah. Tapi, didetik detik menyerahnya aku, ada dua orang yang menarik ku untuk berhenti pada pemikiran bodoh itu. Sirius, aku rasa aku yang bermasalah. Pada setelah dua jam kedepan, aku berharap agar kau dapat menghentikan perasaan bodoh ini. Aku rasa, aku terlalu naif untuk bersama dengan orang- orang yang sempurna sedangkan aku tidak. Kenapa aku menuntut mereka untuk mengerti sedangkan aku sendiri tidak? Kenapa aku menuntut mereka untuk berubah sedangkan aku tidak? Ataukah, aku yang terlalu egois? Pada setelah dua jam kedepan, bagaimana aku harus mengubah perasaan ini agar dua jam setelah ini aku bisa kembali menjadi diriku yang ceria dan semangat? Dua ...

hujan ini...

hem,,, Hujan di malam ini,,, mengingatkan aku, hari dimana kau mengingkari,  hari dimana kau mengatakan Cinta, Cinta kepada Cinta lama mu. hujan di malam ini... mewakilkan perasaan ku, melukiskan semua kesakitan hatiku karena perkataan mu. tak ingatkah disaat kau dan aku bersama menelusuri pantai nan indah, kau berjanji akan dan selalu membutuhkan ku. dan sekarang aku menyadari bahwa kata kata mu bukanlah " aku akan selalu mencintaimu". benar, terserah pada mu. semua keputusan ada pada diri mu. sekarang memilih dia yang menyakiti mu bukan aku yang benar benar tulus pada mu. hah... benar, itu bukan urusan ku jika kau kembali tersakiti itu bukanlah urusan ku lagi. aku tak mempunyai hak untuk memberi kehangatan lagi, tak memiliki hak untuk selalu menghapus air mata mu. ^-^

GeDuNG sErBagUnA

saat pertama tiba kami berfoto bersama, pemandangannya asri. ketika masuk lebih dalam, ilmu kami semakin bertambah. banyak ilmu ilmu sains yang selama ini hanya kami bayang dan kami takar hari ini kami lihat secara langsung.  hem,,, sayangnya gedung serba guna itu sepi. kata Mutia "ibarat ilalang di hamparan tanah lapang. tak pernah disentuh dan dilihat" menyusun angka dan penjumlahannya, melihat sulap yang selama ini dilakukan di Tv ternyata itu sebagian dari ilmu fisika. hah,,, kata Sari " tambah bernafsu untuk lebih menjelajahi seluk beluk fisika"   kalo kata saya "disana ibarat jutaan permainan yang membangkitkan sifat kekanakkan tapi menambah wawasan. benar ilalang, tapi berharap agar ilalang yang kesepian tersebut dapat tumbuh menjadi sebuah pemandangan yang asri. dengan menjaga, merawat dan menemani kekosongan tersebut."