Dulu sekali,,, enam tahun yang lalu, saat aku masih suka dikuncir dua. Enam tahun yang lalu, saat aku masih malu berbicara dengan orang-orang disekitarku, saat aku tidak malu untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Marah ya marah, jengkel ya jengkel, ngambek ya ngambek, nangis ya nangis, dan bahagia ya tertawa. haha masa masa itu, aku rindu. (Aku ragu menulis kata rindu, karena saat ini sedang demam DILAN 1990. Yang mana kata rindu menjadi milik Dilan dan Milea saja) :)
Sore ini, ditemani matahari senja serta musik yang sedang adikku dengarkan, aku ingin kembali mengingat masa masa dimana aku bisa merasakan bahwa aku juga memiliki hati, bahwa aku juga bagian dari 'manusia'.
Hari Kamis tahun 2011, aku lupa bulan berapa. Dua hari sebelumnya, saat aku tengah menikmati makanan dari kantin bersama seorang temanku, setelah melewati mata pelajaran matematika, ia datang bersama beberapa temannya (dia memiiki banyak teman yang berbeda beda kelas). seperti biasa, ia akan berhenti untuk beberapa menit atau sampai jam istirahat selesai. berdiri didepan jendela yang berada tepat disamping tempat dudukku. Lalu, dia akan mengobrol dengan temannya bukan denganku (mungkin karena dia tahu kalau aku tidak akan menanggapi pembicaraannya, saat itu aku masih belum terbuka dengan siapapun). ia adalah anak yang supel, merangkul semuanya, selama beberapa tahun aku mengenal dia, tak pernah sekalipun dia membicarakan kejelakan orang lain sperti kebanyakan orang orang disana. dia pernah bilang bahwa dia hanya akan membicarakan hal yang ia suka,
"Seperti apa?" tanyaku padanya pada tahun 2010, pertama kali kami satu kelas.
" Tentang basket, tentang musik, tentang pak Ahmad (kalau tidak salah nama beliau Ahmad), tentang kamu, atau tentang peraturan sekolah ini." Dia melirikku sebentar, lalu menghadapkan matanya kembali kedepan.
" Kenapa denganku?"
" Karena, aku belum mengenalmu." bel istirahat selesai, ia kembali kekursinya.
itu adalah cara dia memancing pembicaraan, atau cara dia jika ingin mengetahui sesuatu. Saat ini, aku merasa sangat menyesal. Karena aku, dia tidak mau membuka dirinya lagi. saat itu, ada hal yang terjadi. dia menceritakan semua masalahnya padaku, apa yang tidak dia sukai atau apa yang ia sukai.
Tapi, hari rabu tahun 2010, ia seperti memiliki masalah yang tidak mau ia ceritakan padaku. Tapi matanya mengisyaratkan beban.
" Ada masalah apa?"
" Tidak ada" jawabnya sembari tersenyum menenangkan.
" Aku tahu kalau sahabatku sedang dalam masalah." Ia melirikku lagi
" Aku mau sepertimu. Tidak menceritakan masalah apapun. Diam saja." Ia berjalan mendahuluiku dengan membawa kotak sampah, (saat itu kami sedang melakukan operasi semut atau piket umum, saya lupa hehe).
saat itu, aku benar kaget. karena sejak saat itu dia tidak menceritakan apapun masalahnya padaku, dia memilih tempat baru, (nanti akan aku ceritakan perihal ini).
aku lupa fokus cerita, hehe. ayo kembali ke kisah enam tahun yang lalu...
Ketika dia bosan dengan perbincangan itu, dia akan menjahiliku, hanya sekedar menarik rambutku pelan, atau mengejekku yang sedari tadi diam, atau juga mungkin dia mengambil bukuku yang tergeletak dimeja. itu yang dia lakukan dua hari sebelum hari kamis. Ia menarik buku catatan matematikaku dan berlari ke kelasnya, karena bel masuk telah berbunyi. (Aku dan dia berbeda kelas untuk tahun terakhir ini, padahal aku berharap untuk bisa satu kelas dengannya).
lalu, pada saat hari kamis, aku lupa bahwa ada pelajaran matematika, dan aku memintanya untuk mengembalikan bukuku. Dan seperti biasa dia kekelasku, dan menjahiliku terlebih dahulu. jujur, aku suka cara dia menjahiliku, cara dia menatapku, dan cara dia mengajariku tentang kehidupan.
aku membuka lembaran demi lembaran catatan matematikaku yang telah bersemayam beberapa hari dirumahnya. Tanpa sengaja diakhir halaman, aku menemukan gambar itu, dan asal kau tahu saja, dibawah gambar itu, terdapat tulisan yang membuat aku senyum sendiri.
begini bunyinya,
" Dek, setiap masalah pasti ada jalan keluar, kuncinya ada dalam hati. Pada dasarnya sebuah masalah itu terjadi karena keegoisan masing-masing, jadi sebelum masalah itu berlanjut menjadi masalah yang rumit. pikirkan dan renungkanlah apa yang harus dilakukan agar masalah itu cepat diselesaikan".
aku tahu maksud dari tulisannya itu, dan mengarah kemana. Hanya saja, saat itu emosiku sangat tinggi dan aku masih berada dalam sifat yang labil. Hingga, aku tidak terlalu menggubris nasihatnya.
note : Dia, sahabatku. Bukan seperti apa yang mereka banggakan selama ini. hanya sahabat.
dia memanggilku adik, karena usianya lebih tua beberapa bulan, hehe.
Komentar
Posting Komentar