Sore Sirius. Saat ini belum senja. Tapi entah kenapa saya ingat senja. Suka Senja. Dan jatuh cinta kembali dengan senja. Setelah beberapa tahun ini saya membencinya. Setelah kepergian-mu.
Sirius, saat ini hati saya tidak memberontak untuk bertemu. Tidak juga memaksa untuk mengingat tentang kita. Tapi, saya sudah berjanji untuk menulis tentang kita. Agar suatu hari nanti, ketika saya kembali memberontak, saya bisa membaca tentang kita. Saya takut, penyakit lupa ini semakin menguasai saya. Dan terjadi padamu.
Saat itu, saya marah. Marah karena, hal yang biasa kamu lakukan pada saya. berubah. drastis.
Kamu yang selalu bercerita dan meminta pendapat pada saya. Tiba-tiba menghilang secara perlahan. Seolah dia adalah tempat ternyaman bagimu membagi cerita dan keluh kesah.
Kamu baru mengenalnya.
Dan saya rasa, semua sahabat akan merasakan hal yang sama, ketika sahabatnya menemukan sahabat baru.
Desember 2011
Hari itu, disengaja atau tidak. Kamu yang selalu bersama saya kemanapun. Beralih. Menggenggam tangan yang lain, menatap mata yang berbeda, tersenyum kepada orang yang berbeda. Dan berbagi cerita kepada orang yang berbeda.
Saya merasa kehilangan. Dan belum terbiasa dengan sikapmu yang begitu dadakan.
Tapi, satu hal yang membuat saya merasa bahwa kamu tidak hilang sepenuhnya ialah caramu mendekatiku.
Meski waktumu selalu habis dengan dia. Kamu memiliki cara untuk bersama saya. Meski hanya sekedar duduk disamping saya atau menggambar dan mencoret buku tulis saya.
Saya rasa, hal ini yang tidak bisa kamu lakukan padanya.
Dan saya menghargai itu. sangat.
Lalu, semakin hari. Kamu semakin menjauh. meski tidak sepenuhnya.
Hanya saja, Kamu menggantikan semua yang sudah biasa, menjadi asing.
Saya sering mengeluhkan hal ini padamu.
Kenapa menjauh?
Kenapa tidak cerita?
Kenapa? Kenapa? dan Kenapa?
Dan selalu. Dengan tenang dan dewasa, kamu menjelaskan padaku. Mungkin itulah sebabnya, kenapa banyak orang yang ingin berteman dan dekat denganmu. Dan aku, menjadi salah satunya.
Hari ini, 18 Januari 2019 pukul 15.30 bersama langit yang mendung, dan hujan yang cukup lebat. Saya kembali ingat. Bahwa kita telah banyak diuji. untuk persahabatan ini. Persahabatan yang diimpikan kebanyakan orang. Bukankah seharusnya kita bersyukur?
Kita memang sama. Tidak melihat nilai itu! Dan sama-sama pergi, menjauh. Hilang. Begitu saja.
Dan bersama mendungnya langit serta lebatnya hujan, hari ini sama dengan 9 tahun yang lalu.
Kita bertengkar. Tak bertegur sapa. Cukup lama. pertengkaran pertama yang hebat.
Bantu aku, Sirius. mengingatnya. Aku lupa karena apa?
Yang aku ingat, saat itu kamu mengatakan, " jika kamu menyalahkannya lagi, lebih baik kita tidak perlu saling mengenal".
Kamu tahu Sirius, itu aneh. Jika kamu begitu mempertahankan pertemananmu dengannya. kenapa kita tidak?
Saya rasa, cemburu adalah hal yang wajar bagi seorang sahabat lama. Takut. Jika kamu lebih nyaman dengan sahabat barumu.
Dan setelah beberapa hari itu, saya sadar. Saya tidak memiliki hak untuk cemburu, apalagi marah. Karena, dari awal. Saya rasa, kamu dan saya itu berbeda dari kamu dan dia.
kita berbaikan. Tapi setelah itu. Kita hanya sebatas bertegur sapa. Seperti orang yang baru kenal.
Tahukah kamu, Sirius? Bahwa sejak saat itu. entah kenapa, perasaan saya menjadi begitu sensitif. Saya merasa kesal ketika kamu tertawa dengannya, kesal ketika kamu berbagi cerita dengannya, kesal jika dia tahu lebih banyak tentangmu.
Kita selalu bertengkar. Dengan hal yang sama. DIA.
Lalu, saat tiba kenaikan kelas.
Saya sangat berharap, bahwa saya dan kamu satu kelas kembali. Hah... memang tidak setiap do'a adalah yang terbaik untuk menjadi nyata.
Jauh.... Sekali. kelas kita berbeda. Dan,, Kamu bersebelahan dengannya.
Kamu semakin dekat dengannya dan teman-temannya yang lain.
Tapi tetap saja. Saya yakin, kamu tetaplah kamu.
Kamu adalah orang pertama yang menyapaku ketika orang-orang berada dalam keapatisan.
Kamu adalah orang pertama yang mengatakan bahwa, persahabatan setiap orang itu berbeda.
Kamu adalah orang pertama yang tahu bahwa rasa sakit tidak perlu ditunjukkan pada siapapun. Cukup Kita. setelah itu diam.
Dan, saya percaya. Kita akan tetap kita.
Urusanmu dekat dengan siapapun. Urusanmu mau dengan siapapun. Saya, tetap menjadi sahabatnya.
pikir saya.
Sampai... kita benar-benar jauh.
Saya baru sadar. Bahwa saya sudah kehilanganmu sejak awal.

Komentar
Posting Komentar