Juni 2018, itu saat pertamakali aku menyadari bahwa aku menaruh perasaan padamu. Meski dunia berkata bahwa Kamu mencintainya, aku tetap pada pendirianku. Dan tiba-tiba, kamu memberi perhatian lebih, lalu meninggalkannya. Aku tidak bahagia, tapi tidak juga sedih. Hanya saja, saat itu aku berpikir bahwa kamu mulai sadar pada perasaanmu.
Tahun demi tahun berjalan, kamu tetap sama. Memberi peluang dan harapan. Seperti bahwa perasaanku terbalas. Lalu, 2022 kamu menghilang. Tak ada kabar, tak ada cerita, tak ada sedikitpun kamu bertanya. Dan kembali lagi dengan cerita yang berbeda. Kamu membawanya. Pertunangan itu terjadi tanpa aku tahu dari mulutmu. Anehnya, aku tidak menangis. Tapi tentu saja tidak bahagia. Aku masih berharap jika kamu akan menoleh sedikit saja kebelakang, menyatakan perasaanmu, dan memberanikan diri.
Sayangnya, kamu tidak seberani yang aku pikir. Kamu melanjutkan hubungan tanpa dasar itu. Berlandaskan Iman. Namun, masih sering membalas statusku. Saat itu aku sadar, bahwa perasaan ini salah. Kamu harus hidup dengan pilihanmu. Dan aku, akan melanjutkan hidupku tanpamu. Sampa hari ini, aku selalu berdo'a agar kamu bahagia dengan kehidupanmu, dan aku pastikan aku bahagia dijalanku.
Selamat tinggal yang pernah mengisi kosongnya hari-hariku, yang selalu menjadi orang pertama saat aku kesulitan. Selamat tinggal untuk sebenar-benarnya, jangan menoleh. Tetaplah melihat kedepan. Ada malaikat kecilmu disana, menunggu kamu untuk pulang.

Komentar
Posting Komentar