Kamu yang memulai semuanya. Kamu memberiku harap Baik dan hangatmu yang tertuju padaku, dulu aku menyukainya Harummu yang aku kenal, selalu membuatku berdebar Kalimat yang keluar dari bibirmu, selalu aku suka Tapi, Kenapa begitu cepat berubah? Hanya karena ada DIA, yang bertemu kamu 1 kali 1 minggu. Perubahan itu terasa. Teramat terasa. Sayangnya, kamu tidak menyangkal itu. Diammu, aku anggap pembenaran dari semua hal yang terjadi. Selamat tinggal, sayang Tidak akan ada lagi perhatian yang aku berikan untukmu Tidak akan ada lagi senyum yang kutorehkan padamu Tidak akan ada lagi rasa itu. Benar benar selesai. semunya.
Ini tentang perasaanku yang tanpa aku sadari, ia tlah mati. Juni 2018, itu saat pertamakali aku menyadari bahwa aku menaruh perasaan padamu. Meski dunia berkata bahwa Kamu mencintainya, aku tetap pada pendirianku. Dan tiba-tiba, kamu memberi perhatian lebih, lalu meninggalkannya. Aku tidak bahagia, tapi tidak juga sedih. Hanya saja, saat itu aku berpikir bahwa kamu mulai sadar pada perasaanmu. Tahun demi tahun berjalan, kamu tetap sama. Memberi peluang dan harapan. Seperti bahwa perasaanku terbalas. Lalu, 2022 kamu menghilang. Tak ada kabar, tak ada cerita, tak ada sedikitpun kamu bertanya. Dan kembali lagi dengan cerita yang berbeda. Kamu membawanya. Pertunangan itu terjadi tanpa aku tahu dari mulutmu. Anehnya, aku tidak menangis. Tapi tentu saja tidak bahagia. Aku masih berharap jika kamu akan menoleh sedikit saja kebelakang, menyatakan perasaanmu, dan memberanikan diri. Sayangnya, kamu tidak seberani yang aku pikir. Kamu melanjutkan hubungan ta...