Langsung ke konten utama

Suara Hati

Hari ini, aku bertemu
Dengan sang pemilik hati
Merekah di tarik kupu-kupu
Tak ingin menutup lagi

Suara ku memanggil mu
Melirik setiap gerakan mu
Ku yakin orang tlah tahu
Tentang pipi merah menahan malu

Hari ini, aku tertawa
Bukan karena bahagia mereka
Tentang apa yang merekah-rekah
Lantas mengapa ia marah?

Tidakkah kau mendengar?
Suara hati yang menggelegar
Tentang cinta tak tersambutkan
Mengapa harus ada kepedulian?

Bisakah sama ku dan ia?
Bukan cerita tentang bagaimana?
Bukan pula tentang mengapa?
Tapi, kapan rasa itu ada?

Ku tahu, kau tak paham
Tentang apa yang menghujam
Tapi saat mereka bertanya
Masih pantaskah ku diam murjana

Bukan, tentang dari mana?
Tapi tentang kebenarannya
Saat mereka tahu semuanya
Lantas, benarkah kau menolaknya?

Hari ini, aku tau berita
Bukan karena aku mencarinya
Hanya berterimakasih pada hujan
Tentang apa yang tersampaikan

Biarlah, ku teteskan
Setiap harapan yang terjatuhkan
Pada langit tak berawan
Tentang sebuah pengorbanan...

Hari ini, ku tahu kebenaran
Dari sebuah kenyataan
Tentang dia sang pencuri hati
Namun, tetap sebagai suara hati...

Biarlah, bunga ini merekah dan terus merekah. Meski tak ku beri pupuk. Biarlah ku tahu seberapa cepat bunga ini tumbuh, seberapa besar ia. Maka, disaat ia pergi. Biarlah, ku layukan bunga yang hidup ini, tak kan pernah ku sirami ia.
Lupakan saja tentang teori bagaimana bunga tumbuh?
Biarkan saja...
Aku hidup dengan teori ku sendiri...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku setelah dua jam kedepan?

Dua jam Lagi maka aku telah melewati 1 tahun ini dengan tahun yang sama seperti sebelumnya, tanpa tawa. Sebelumnya, aku berpikir bahwa tempat itu, mungkin akan membawa ku pada hidup yang menarik. Dengan cerita lucu, menantang dan sebagainya. Tapi, pada akhirnya sama saja. Aku berada pada titik yang memintaku untuk menyerah. Tapi, didetik detik menyerahnya aku, ada dua orang yang menarik ku untuk berhenti pada pemikiran bodoh itu. Sirius, aku rasa aku yang bermasalah. Pada setelah dua jam kedepan, aku berharap agar kau dapat menghentikan perasaan bodoh ini. Aku rasa, aku terlalu naif untuk bersama dengan orang- orang yang sempurna sedangkan aku tidak. Kenapa aku menuntut mereka untuk mengerti sedangkan aku sendiri tidak? Kenapa aku menuntut mereka untuk berubah sedangkan aku tidak? Ataukah, aku yang terlalu egois? Pada setelah dua jam kedepan, bagaimana aku harus mengubah perasaan ini agar dua jam setelah ini aku bisa kembali menjadi diriku yang ceria dan semangat? Dua ...

hujan ini...

hem,,, Hujan di malam ini,,, mengingatkan aku, hari dimana kau mengingkari,  hari dimana kau mengatakan Cinta, Cinta kepada Cinta lama mu. hujan di malam ini... mewakilkan perasaan ku, melukiskan semua kesakitan hatiku karena perkataan mu. tak ingatkah disaat kau dan aku bersama menelusuri pantai nan indah, kau berjanji akan dan selalu membutuhkan ku. dan sekarang aku menyadari bahwa kata kata mu bukanlah " aku akan selalu mencintaimu". benar, terserah pada mu. semua keputusan ada pada diri mu. sekarang memilih dia yang menyakiti mu bukan aku yang benar benar tulus pada mu. hah... benar, itu bukan urusan ku jika kau kembali tersakiti itu bukanlah urusan ku lagi. aku tak mempunyai hak untuk memberi kehangatan lagi, tak memiliki hak untuk selalu menghapus air mata mu. ^-^

GeDuNG sErBagUnA

saat pertama tiba kami berfoto bersama, pemandangannya asri. ketika masuk lebih dalam, ilmu kami semakin bertambah. banyak ilmu ilmu sains yang selama ini hanya kami bayang dan kami takar hari ini kami lihat secara langsung.  hem,,, sayangnya gedung serba guna itu sepi. kata Mutia "ibarat ilalang di hamparan tanah lapang. tak pernah disentuh dan dilihat" menyusun angka dan penjumlahannya, melihat sulap yang selama ini dilakukan di Tv ternyata itu sebagian dari ilmu fisika. hah,,, kata Sari " tambah bernafsu untuk lebih menjelajahi seluk beluk fisika"   kalo kata saya "disana ibarat jutaan permainan yang membangkitkan sifat kekanakkan tapi menambah wawasan. benar ilalang, tapi berharap agar ilalang yang kesepian tersebut dapat tumbuh menjadi sebuah pemandangan yang asri. dengan menjaga, merawat dan menemani kekosongan tersebut."